Kisah

Kisah Bermalamnya Imam Syafi'i di Rumah Imam Ahmad bin Hambal, Benarkah? 

Kisah Bermalamnya Imam Syafi'i di Rumah Imam Ahmad bin Hambal, Benarkah? 

Melihat banyaknya mahasiswa Al-Azhar yang berziarah dalam rangka menyambut musim ujian, lagi-lagi saya mendengar kisah Imam Syafi'i yang menginap di rumah Imam Ahmad dan gerak-geriknya di perhatikan oleh anak Imam Ahmad. Berikut redaksi yang beredar di masyarakat. 

Kisah ini berawal dari anak perempuan Imam Ahmad yang sering mendengar keagungan Imam Syafi'i dari ayahnya. Sehingga, sangat besar keinginannya untuk bertemu. Maka, kesempatan itu pun datang. Imam syafi'i (w. 204H) berkunjung ke rumah Imam Ahmad dan makan malam bersama. 

Setelah makan-makan selesai, Imam Ahmad pergi ke tempat ibadahnya, dan Imam Syafi'i merebahkan badannya di atas kasur. Anaknya Imam Ahmad begitu sibuk memerhatikan gerak gerik Imam Syafi'i yang ternyata hanya tidur saja. 

Saat pagi sudah datang, sang anak bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayahku, apakah ini orang yang selama ini engkau junjung? Semalaman suntuk aku memperhatikannya, ia tidak shalat, zikir, ataupun membaca wirid!”

Anaknya Imam Ahmad melanjutkan, “Aku juga memperhatikan tiga hal yang aneh. Pertama, ia makan sangat banyak tadi malam. Kedua, saat masuk kamar ia tidak shalat ataupun zikir, dan terakhir saat shalat subuh ia tidak berwudhu terlebih dahulu”.

Saat matahari sudah terbit, Imam Ahmad duduk bersama Imam Syafi'i dan bertanya tentang apa yang dilihat oleh anak perempuannya. 

Imam Syafi'i menjawab, “Aku banyak makan, karena aku tau makananmu halal, ditambah makanan orang alim dapat menyembuhkan penyakit. Adapun aku yang hanya rebahan, saat aku meletakkan kepalaku di atas kasur, aku melihat seolah di hadapanku dalil Al-Qur’an dan sunnah berkumpul menjadi satu, lalu Allah membuatku faham 72 masalah ilmu fiqih yang insyaallah akan bermanfaat bagi umat. Adapun aku yang shalat subuh tanpa wudhu, maka sungguh, aku tidak tidur semalaman, dan tidak butuh untuk wudhu kembali.”

Kemudian imam Ahmad mengatakan kepada anaknya, “Sesungguhnya yang dilakukan Imam Syafi'i lebih afdhal dari apa yang aku lakukan semalam.”

—

Pertanyaannya, apakah kisah tersebut benar adanya? 

Ahli Hadits Al-Azhar Prof. Dr. Subhi Abdul Fattah Rabi, pernah menyatakan secara sharih bahwa kisah tersebut tidaklah benar.

Kisah ini memiliki banyak sekali kejanggalan. Pertama, bagaimana mungkin dan layak seorang anak perempuan mengintip kegiatan Imam Syafi'i semalaman penuh? 

Kedua, Imam Syafi'i wafat tahun 204 H, sedangkan Imam Ahmad yang lahir tahun 164 H baru menikah di umur 40 tahun, yakni di tahun yang sama dengan wafatnya Imam Syafi'i. Tentunya, Imam Ahmad baru memiliki anak setelah wafatnya Imam Syafi'i. Lantas bagaimana bisa anak Imam Ahmad yang bertemu dgn Imam Syafi'i?

Terakhir, kisah yang masyhur tentang ulama yang mengeluarkan 70 faidah sambil rebahan adalah Al-Imam Ibn Al-Qash Ahmad Al-Thabari (w. 335 H) yang diceritakan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari. Syekh tersebut dapat mengambil 70 faidah dari hadits “Abu Umair ma Fa'ala Al-Nughair” baik dari hukum maupun segi bahasa. Ini bukan berarti Imam Syafi'i tidak mampu, tapi riwayat tidak ada yang menyebutkan beliau melakukan hal tersebut.

Wallahu A’lam


Kisahhikmahimam syafi'i

Ingin jadi kontributor kami?

Klik di sini

Artikel Terkait

Akhlak Pewaris NabiKisah

Akhlak Pewaris Nabi

Kisah kerendahan hati Syaikh Abdul Aziz as-Syahawi saat disapa akrab oleh seorang pedagang di Kairo, mengingatkan pada akhlak mulia Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Faqih Ubaidillah
20 Juli 202659

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Tinggalkan Komentar

Rekomendasi

Iklan