Kisah

Kisah Taubat Seorang Pembunuh 99 Nyawa

Kisah masyhur tentang luasnya rahmat dan ampunan Allah bagi hamba yang bersungguh-sungguh bertaubat.

Kisah Taubat Seorang Pembunuh 99 Nyawa

Adakah dosa yang terlalu besar untuk diampuni? Kisah shahih berikut — diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu — menjawab pertanyaan itu dengan cara yang menggetarkan hati. Ia adalah kisah tentang seorang laki-laki dari umat sebelum kita yang telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, lalu mencari jalan pulang kepada Allah.

Fatwa yang Menutup Pintu

Laki-laki itu bertanya kepada penduduk negerinya: siapakah orang yang paling berilmu di muka bumi? Ia lalu ditunjukkan kepada seorang rahib — ahli ibadah yang tekun, namun bukan ahli ilmu. Kepada rahib itu ia mengaku telah membunuh 99 jiwa, lalu bertanya: masih adakah pintu taubat baginya?

Sang rahib menjawab: tidak ada.

Jawaban yang memutus harapan itu membuatnya gelap mata. Ia membunuh sang rahib, menggenapkan korbannya menjadi seratus jiwa. Para ulama mengambil pelajaran besar dari bagian ini: betapa berbahayanya berfatwa tanpa ilmu. Rahib itu ahli ibadah, tetapi kejahilannya tentang luasnya rahmat Allah justru membinasakan dirinya dan hampir membinasakan orang yang bertanya.

Fatwa yang Membuka Harapan

Keinginan bertaubat itu ternyata tidak padam. Ia kembali mencari orang paling berilmu, dan kali ini ditunjukkan kepada seorang 'alim sejati. Ia mengajukan pertanyaan yang sama: aku telah membunuh seratus jiwa, masih adakah taubat untukku?

Sang 'alim menjawab: "Ya. Siapa yang dapat menghalangi antara dirimu dan taubat?"

Namun sang 'alim tidak berhenti pada fatwa. Ia memberikan resep perubahan: "Pergilah ke negeri ini dan itu, karena di sana ada orang-orang yang menyembah Allah. Beribadahlah bersama mereka, dan jangan kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang buruk." Inilah fiqih dakwah yang dalam: taubat membutuhkan lingkungan baru, teman baru, dan meninggalkan tempat yang menjerumuskan.

Perselisihan Dua Malaikat

Laki-laki itu berangkat. Di tengah perjalanan — sebelum sampai ke negeri tujuan — maut menjemputnya. Turunlah malaikat rahmat dan malaikat adzab, masing-masing merasa berhak membawanya. Malaikat adzab berkata: ia belum pernah beramal baik sedikit pun. Malaikat rahmat berkata: ia datang dalam keadaan bertaubat, menghadapkan hatinya kepada Allah.

Allah lalu mengutus malaikat sebagai penengah: ukurlah jarak antara dua negeri itu; ke negeri mana ia lebih dekat, ke sanalah ia digolongkan. Dalam sebagian riwayat disebutkan Allah memerintahkan bumi negeri yang buruk untuk menjauh dan negeri yang baik untuk mendekat. Ternyata ia lebih dekat ke negeri orang-orang shalih sejengkal saja — maka malaikat rahmat pun membawanya.

Pelajaran dari Kisah

  • Rahmat Allah lebih luas dari dosa apa pun. Seratus nyawa bukan penghalang taubat, selama nyawa pelakunya masih ada. "Katakanlah: wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah." (QS. Az-Zumar: 53)
  • Bertanyalah kepada ahli ilmu, bukan sekadar ahli ibadah. Fatwa tanpa ilmu bisa membinasakan.
  • Taubat sejati menuntut perubahan lingkungan. Tinggalkan tempat, komunitas, dan kebiasaan yang mengantarkan pada dosa.
  • Allah menilai arah hati dan langkah. Laki-laki itu belum sempat beramal shalih satu pun, tetapi kesungguhan langkahnya menuju kebaikan sudah cukup menjadi bukti taubatnya.
  • Jangan meremehkan sejengkal kebaikan. Selisih sejengkal menentukan akhir hidupnya — maka jangan tunda langkah kebaikan sekecil apa pun.

Penutup

Kisah ini bukan izin untuk menunda taubat — sebab tidak ada yang menjamin kita sempat melangkah seperti laki-laki itu. Ia adalah kabar gembira bagi siapa pun yang merasa dosanya terlalu besar: pintu Allah tidak pernah tertutup bagi hamba yang datang. Yang dibutuhkan hanyalah berhenti, menyesal, dan melangkah sungguh-sungguh ke arah yang baru. Wallahu a'lam bish-shawab.

kisahtaubat
Muthiah Fairuzi, Lc
Muthiah Fairuzi, Lc

Kontributor kajian fiqih wanita dan kisah-kisah teladan salafus shalih.

Tulisan Lain dari Muthiah Fairuzi, Lc

Artikel Terkait

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Tinggalkan Komentar

Rekomendasi

Iklan

Informasi

Iklan

Iklan

Iklan