Jawaban:
Syaikh Labib Najib memberikan jawaban:
Darah yang masih tersisa pada daging dan tulang setelah penyembelihan termasuk najis yang dimaafkan (ma‘fu ‘anhu). Namun, apabila daging tersebut terkena air yang digunakan untuk mencucinya, maka darah yang tersisa setelah itu tidak lagi dimaafkan.
Syekh Sa‘id Ba‘isyan dalam kitab Busyra al-Karim (1/231, cet. Dar al-Dhiya’) menjelaskan:
ومنه - أي: من المعفو عنه من الدم -: ما يبقى على اللحم والعظام، لكن يُعفى عنه في الأكل، وإن اختلط بماء طبخٍ وغيره، وكان واردًا على الماء، نعم إن لاقاه - أي: ماءٌ - لغسله اشتُرطَ زوال أوصافه قبل وضعه في القدر.
“Termasuk darah yang dimaafkan adalah darah yang masih tersisa pada daging dan tulang. Darah tersebut dimaafkan ketika dimakan, meskipun bercampur dengan air masakan atau selainnya, selama daging tersebut dimasukkan ke dalam air (bukan air yang dituangkan kepadanya).
Namun, apabila daging terkena air yang digunakan untuk mencucinya, maka disyaratkan agar sifat-sifat darah tersebut hilang sebelum daging dimasukkan ke dalam panci.”
Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani juga menjelaskan dalam kitab Al-Kasyifah (hlm. 24, cet. Al-Haramain):
والدم الباقي على اللحم والعظم الذي لم يختلط بشيءٍ، كما لو ذبح شاةً وقطع لحمها وبقي عليه أثر الدم عفى عنه، بخلاف ما لو اختلط بغيره كما يُفعل في البقر التي تُذبَح في المحلِّ المعدِّ لذبحها الآن من صبِّ الماء عليها؛ لإزالة الدم عنها، فإنَّ الباقي من الدم على اللحم بعد صبِّ الماء لا يُعفى عنه، وإن قلَّ لاختلاطه بأجنبيٍّ، فليُنتبه.
“Darah yang masih tersisa pada daging dan tulang serta belum bercampur dengan sesuatu yang lain, seperti seseorang menyembelih seekor kambing, kemudian memotong dagingnya dan masih terdapat bekas darah padanya, maka darah tersebut dimaafkan.
Berbeda halnya apabila darah tersebut telah bercampur dengan sesuatu yang lain. Sebagaimana yang dilakukan pada sapi yang disembelih di tempat penyembelihan saat ini, yaitu dengan menyiramkan air ke tubuh sapi untuk menghilangkan darahnya. Darah yang masih tersisa pada daging setelah disiram air tersebut tidak lagi dimaafkan, meskipun jumlahnya sedikit, karena telah bercampur dengan benda lain. Maka, perhatikanlah masalah ini!”
Meskipun demikian, terdapat kelonggaran untuk mengikuti pendapat madzhab Maliki dalam masalah ini. Dalam kitab Mawahib al-Jalil (1/96) disebutkan:
وغير المسفوح كالباقي في العروق، وقال ابن فرحون: كالباقي في محل التذكية وفي العروق، وهو طاهر مباح الأكل على ظاهر المذهب انتهى، وهو المشهور.
“Adapun darah yang bukan termasuk darah yang mengalir (masfuh), seperti darah yang masih tersisa di dalam urat-urat. Ibnu Farhun mengatakan bahwa darah yang tersisa di tempat penyembelihan dan di dalam urat-urat juga termasuk di dalamnya. Menurut pendapat yang tampak dalam madzhab, darah tersebut suci dan halal untuk dimakan. Pendapat inilah yang masyhur.”